Kenapa Bersendiri?

Semenjak saya semakin rajin pergi sendirian, pertanyaan-pertanyaan ini semakin sering ditanyakan kawan-kawan, kenalan, atau keluarga besar.

Alasannya mungkin sederhana, tidak banyak dari orang-orang di sekitar saya yang terbiasa pergi traveling sendirian. Ada beberapa alasan mendasar kenapa traveling sendirian belum menjadi budaya di masyarakat kita. Rasa tidak aman, rasa takut kesepian, dan kebingungan adalah beberapa di antaranya.

Kenapa awalnya saya berani pergi sendiri? Jawabannya sederhana.

Terpaksa.

Pada tahun 2007,  saya mendapat kesempatan beasiswa untuk belajar di Prancis selama satu bulan. Perjalanan gratis ke Prancis rasanya seperti menang lotere! Dengan tiket pesawat yang sudah dibayarkan oleh pihak pemberi beasiswa dan visa Schengen di tangan, saya tergoda untuk menjelajah beberapa negara Eropa lainnya. Masalahnya, beberapa orang teman yang kala itu pergi bersama saya tidak ada yang tertarik untuk melakukan hal yang sama.

Rasa takut tentu saja ada. Tapi pikiran saya waktu itu hanya satu: “Entah kapan gue akan mampu beli tiket sendiri buat ke Eropa, ini udah dikasih gratis. Masa nggak dipergunakan?”

Kesempatan.

Hal yang selalu saya percaya tidak pernah datang dua kali. (Belakangan saya tahu bahwa saya salah, ternyata jika kita cukup cerdik untuk memanfaatkan kesempatan, semesta akan berbaik hati untuk selalu memberi kita kesempatan kedua). Saya ketakutan luar biasa karena akan melakukan perjalanan sendirian tapi saya mencoba meneguhkan hati dan pendirian untuk melanjutkan perjalanan dengan semangat “Mumpung udah sampai sini..”

Rasanya mengerikan sekaligus memicu adrenalin. Naik turun kereta. Singgah di negara-negara yang tak saya mengerti bahasanya. Bertemu orang-orang baru. Cermat menghitung uang di kantong yang pas-pasan.  Belajar kebudayaan baru. Mengasah intuisi. Meningkatkan mawas diri.  Semuanya menjadi pelajaran yang berharga.

Pada perjalanan pertama ini, saya terpaksa berani. Saya terpaksa menikmati kesendirian. Terpaksa melatih intuisi untuk menjaga diri. Terpaksa belajar berkomunikasi dengan orang asing. Terpaksa membiasakan diri untuk mandiri. Yang paling aneh dari semua kondisi terpaksa ini adalah bahwa saya pulang dengan bahagia. Saya pulang dengan banyak sekali cerita. Saya pulang dengan keadaan lebih mengenal diri saya.

Saya berhasil menikmati kesendirian saya.

Jadi, kenapa bersendiri?

Karena saya juga ingin mendengar cerita mereka di luar sana yang pernah pergi sendirian, dan membagi rasa utuh dan bahagia yang selalu saya dapatkan ketika pulang bepergian dengan berbagai cerita.

Advertisements

19 thoughts on “Kenapa Bersendiri?

  1. Sebenarnya alasan kita lumayan mirip-mirip. Saya pertama kali traveling sendiri juga karena “terpaksa”.
    Dari dulu punya uang tabungan untuk traveling, tapi ngga pernah terpakai karena teman-teman ngga ada yang bisa diajak traveling. Kalaupun bilangnya bisa, ujung-ujungnya ngga jadi. Akhirnya uangnya habis kepakai entah buat apa. Akhirnya pas beneran ada uang lagi, maksain diri buat pergi walaupun sendirian. Dulu mindset-nya adalah, kalau liburan harus ramai-ramai. Tapi semakin ke sini, di luar negeri banyaakkk banget ketemu sama solo traveler 🙂

    Like

    1. Haha setuju banget dengan poin ini.. “uangnya habis kepakai entah buat apa”.. Aku traveling juga karena merasa daripada uangnya habis buat ngopi dan makan di Jakarta.. Kenapa nggak sekalian ngopi di negara lain 😉

      Like

  2. Perjalanan jauh pertama adalah delapan tahun silam. Saat itu sendiri, juga karena terpaksa. Hal itu berulang terus sampai enam tahun kemudian, saat semesta mengakhiri masa bersendiri. Meski demikian, perjalanan bersendiri akan selalu terkenang, karena itu adalah saat-saat yang membuka mata, penuh ajar, dan mendewasakan.

    Like

  3. Karena pekerjaan, saya jadi terbiasa bepergian sendirian. Benar, ada perasaan takut di tempat yang asing, tapi biasanya kalah dengan keinginan menjelajah. Juga setuju sekali soal mengasah intuisi dan bersikap mawas diri. Bepergian sendiri membuat mata ‘melek’, membuat saya lebih toleran pada apa dan siapa saja, alias merasa bahwa sini cuma kutu kecil di dunia ini jadi nggak usah banyak lagak. 😀

    Like

    1. Haha Weniiing.. Kamu sih kutu kecil yang super keren. Selalu ngefans sama tulisan-tulisanmu! Kita ngobrol yuk soal berbagai pengalaman bersendirimu, dengan senang hati akan aku masukkan ke sini 🙂

      Like

  4. Hi Dini! Aku suka sekali baca tulisan kamuu.. Aku juga termasuk yang sering traveling sendirian (and I love it!) dengan alasan yang kurang lebih sama: ga ada pilihan lain. Hehe.. Alhamdulillah ga pernah takut kenapa-kenapa karena percaya ada yang jagain ditambah doa orang tua dirumah dan emang karena niat nya kan bukan untuk macem-macem ya.. 🙂

    Anyway, keep on writing and I’ll be sure to come back!

    Like

    1. Hi Heidy, terima kasih banyak sudah mampir untuk baca tulisanku. Iya aku percaya doa orang tua juga salah satu yang selalu menjaga kita.. Kamu di Jakarta nggak sih sekarang? Mampir ke pasar santa yuk weekend iniii.. Pengen denger juga cerita jalan-jalan sendirinya.

      Like

  5. andaikan kita-kita ini yang gak punya temen jalan-jalan, saling kenal dan bisa jalan-jalan bareng. gak perlu lagi deh jalan-jalan sendiri! haha

    Like

    1. Hi Nelson,
      Boleh dicoba tuh, mungkin nanti kita bisa buat trip untuk para pejalan sendiri pergi berrramai-ramai.
      Kalau saya pribadi meskipun punya banyak teman jalan-jalan, kadang memang tetap butuh waktu untuk pergi bersendiri 🙂

      Like

  6. Pertama kali pergi solo backpacking 4 tahun yang lalu ke Lombok karena patah hati, tapi jadi ketagihan. Akhirnya jadi rutin pergi sendiri, selain travelling rame-rame. Bersendiri itu sungguh suatu seni dan petualangan yang jadi satu. Sendiri itu gak selalu sepi, justru dengan bersendiri jadi ngerti ramainya hati. Baru tau ada blog ini, seneng banget ternyata saya gak aneh sendiri. Kapan ada aktivitas lagi? pengen ikutan rasanya.

    Like

    1. Saya suka sekali dengan cara Wina mengatakannya.. “Justru dengan bersendiri jadi ngerti ramainya hati” 😍
      Terima kasih sudah mampir ke sini. Inginnya sesegera mungkin bikin aktivitas lagi. Nanti kita update ya, mungkin di Maret atau April.

      Like

  7. Setelah ka2k saya lulus dari kuliah dan pndh ke kota lain saya tinggal sendiri di Yogyakarta hingga kini…jln kemana-mana selalu sendiri…bener sekali dengan bersendiri kita jadi lebih dewasa dan mengenal diri dan menemukan jati diri kita..website ini sungguh mengubah pandangan say untuk mencoba traveling sendiri dan karena selama ini sy terlalu cemas dan takut untuk melakukannya..ternyata petualang sendiri di Indonesia juga ada..

    Like

    1. Wah. Jogja juga adalaha salah satu tujuan favorit dalam negeri saya untuk bersendiri 🙂 terima kasih sudah mampir di sini dan berbagi cerita.. Semoga semakin banyak menemukan cerita-cerita seru pejalan sendiri yang lain yaaa

      Like

  8. Wah wah perkenalin saya gilang, saya jg suka traveling sendirian, yang paling berkesan buat saya itu ketika saya traveling ke phuket ya bisa di bilang traveling perdana saya , ada banyak hal yg bisa saya dapat diantaranya saya bisa belajar budaya mereka, interaksi dengan orang – orang baru dan rasa bangga terhadap diri sendiri se hingga timbul rasa percaya diri. Ohya saya jg sering ketemu sama turis turis asing yg suka berpergian sendirian, saya pernah bertanya kepada salah satu dari turis asing? Kenapa sih kebanyakan dari kalian suka pergi traveling? mereka dengan simple menjawab ” travel as much as you can, as far as you can, as long as you can. Life’s not meant to be lived one place” kata kata ini yg jadi inspirasi buat saya buat ngelihat keindahaan dunia selanjutnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s