Nepal, Si Magnet Bersendiri

Saya tidak selalu traveling bersendiri.  Ada kalanya saya pergi bersama teman-teman dekat, yang di setiap kesempatan membuat saya bersyukur bahwa perjalanan ini kemudian menjadi pernuh warna karena kepribadian mereka yang berrupa-rupa. Trip saya ke Nepal adalah salah satunya. 

Entah kenapa meskipun kala itu kami berramai-ramai di Nepal, tapi sepulangnya dari sana saya melihat banyak foto yang saya ambil ternyata adalah foto momen bersendiri milik orang lain. Saya senantiasa tertarik pada kutub magnet bersendiri penduduk Nepal yang memancarkan rasa syukur dan kedamaian. Saya rasa itulah berkah terbesar untuk saya dari perjalanan ini.

Tak sulit bagi saya untuk tersihir dengan semua ketenangan penduduk Nepal yang saya temui, yang larut dan damai dalam kesendiriannya masing-masing di luar kekacauan di sekitarnya. Ada mantra yang bergema di semua sudut kota. Ada Gardens of Dream yang menawarkan oasis di tengah kota.

Kathmandu yang riuh rendah dan berantakan di tiap sudutnya tak menyurutkan kebahagiaan di wajah para penduduknya. Dengan tata kota yang berantakan, lalu lintas yang tak karuan, debu berterbangan, di tengah sengatan panas yang menerpa saya  jatuh cinta pada seekor anjing yang tertidur lelap di lapangan Boudanath. Ia dikelilingi turis-turis lalu lalang dan para biksu yang tak henti merapal doanya. Ia tidak menyalak, tidak berlari agresif ke sana-sini. Ia diam. Menjadi satu dengan sekitarnya. Mungkin ini makna meditasi yang sesungguhnya.

Di antara warna warni bendera doa, di setiap raut wajah yang saya temui, dan di setiap sudut kota di kaki Himalaya itu, saya memanjatkan rasa syukur pada semesta atas hadiah rasa damai yang bergulir terus menerus tanpa putus. 

Namaste.
   
    
    
    
    
     

Advertisements

6 thoughts on “Nepal, Si Magnet Bersendiri

    1. Kapan-kapan harus coba juga ke Annapurna Base Camp, trus pulangnya mampir ke Jhinu Danda dan berendam di sumber mata air panasnya. Hiburan banget, setelah trekking berhari-hari 🙂

      Like

  1. Setuju sekali. Bahkan menurut saya, orang-orang Nepal terlihat santai dengan keadaan yang ada di negara mereka. Kebetulan saya mengunjungi negara itu, sebelum dan sesudah gempa di tahun 2015. Saya lihat setelah gempa pun, mereka tetap tampil sebagai bangsa yang optimis dan tetap bersyukur dengan keadaan yang mereka alami sehari-hari. Dan yang paling menyenangkan adalah mereka tetap tampil sebagai bangsa yang ramah, dan tulus. Tak hanya di perkotaannya, tapi juga sampai ke pegunungannya. Kebetulan saya sudah dua kali trekking ke Himalaya (Annapurna di tahun 2016, dan Everest Base Camp di tahun 2017).

    Terlepas dari infrastruktur di negara tersebut yang masih perlu banyak pembenahan. Nepal memiliki daya tarik yang tak bisa dihindarai. Kebudayaannya, bangunannya, makanannya, alamnya, dan tentu saja manusianya. Ngangenin lah pokoknya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s