Eva Muchtar- Tentang Carmona

 *image taken from photobucket.com

Saya masih ingat hari itu. Sebuah Sabtu. Sehari sebelumnya, teman saya bertanya rencana akhir pekan saya. Saya bilang “I don’t know. We’ll see.” Sabtu pagi saya terjaga, terpikir saya ingin ke kota di dekat Sevilla. Yang cukup dekat untuk pergi sehari tanpa menginap.

Saya membuka Lonely Planet dan melihat nama itu “Carmona,” satu jam dari Sevilla. Ada bus langsung. Pas. Saya berjalan ke stasiun bus, mencek jadwal ke Carmona. Saya mengantri dan naik bus. Rasanya tak banyak pikiran melintas.

Memasuki Carmona, saya melihat rumah makan tionghoa. “Enak juga” saya pikir. Turun dari bus, saya berjalan ke sana. Pukul 12 siang. Masih terlalu awal buat budaya setempat untuk makan siang. Rumah makan masih sepi, yang punyanya masih beberes. Tapi sudah buka. Saya duduk dan memesan makanan. Mata tertumpu pada sebuah meja pingpong. Saya bertanya, ternyata anak yang punya suka main pingpong. Sambil menunggu, saya bermain pingpong dengannya.

Setelah itu saya berjalan. Berjalan tanpa ada tujuan selain mengikuti langkah kaki saya. Tiba di luar batas kota, saya terduduk di batu besar pinggir jalan. Tiba-tiba saya terisak, cukup lama, tanpa tahu kenapa. Saya izinkan diri saya menangis hingga reda sendiri.

Waktunya pulang. Saya kembali ke pemberhentian bus yang membawa saya ke Sevilla. Karena bus belum datang, saya duduk di bangku dengan pemberhentian bus. Ada seorang nenek duduk di bangku lain tak jauh dari situ. Ketika bus datang, saya mulai mengantri. Nenek berdiri di sebelah saya. Beliau mulai bertutur tentang anak dan cucunya. Saya mendengarkan saja.

Ketika mau naik bus, nenek itu mengeluarkan kalender saku bergambar Carmona, dan dia hanya mengatakan “Para ti.” – Untuk kamu. Saya membawanya hingga kini.

Sampai di Sevilla, saya bercerita ke teman saya tentang kejadian ini. Dia mengatakan, “Akhirnya, kamu mendengarkan jiwamu.”

***

Eva Muchtar awalnya adalah hanya salah satu kolega di tempat saya bekerja. She is definitely not the easiest person to work with (and that is a compliment mbak ;P)  but to my blessing, we got along really well. Pada beberapa kesempatan, jawaban-jawaban singkat Mbak Eva (atau tulisan-tulisan di blog nya) atas pertanyaan-pertanyaan saya akan hidup berhasil ‘menyelamatkan’ saya. Mbak Eva berulang kali menyederhanakan kerumitan-kerumitan hidup saya dengan caranya sendiri, tanpa ia perlu berusaha.

Saya mengajukan 10 pertanyaan pada Mbak Eva untuk membuatnya bercerita mengenai pengalamannya bersendiri selama 6 bulan di Spanyol beberapa tahun silam. Tidak semuanya akan saya tampilkan sekaligus saat ini,  saya ingin menampilkannya secara berkala.. sebab saya sungguh penasaran, apakah virus penyederhanaan Eva Muchtar bisa berguna bagi orang lain, tak hanya saya :).

Ketakutan adalah salah satu pertanyaan yang berulang-ulang diajukan banyak orang kepada saya setiap kali saya bicara tentang Bersendiri. Tentunya ini juga yang saya tanyakan pada Mbak Eva, tidakkah ia takut? 6 bulan, sendirian, bahkan tidak bisa bahasa lokal. Kok repot-repot amat sih pengen bersendiri? Ia menjawab dengan tenang.

“Sebelum berangkat, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan sama sekali. Sudah yakin dan jalan pun dipermudah untuk mempersiapkan segalanya.Rasa khawatir baru muncul ketika tiba di sana, musim gugur yang mulai dingin. Baru menyadari betapa drastis perbedaan kehidupan di Sevilla, Spanyol, dengan keseharian di Jakarta. Segala yang menjadi bagian dari identitas (baca: kesombongan) serasa dikelupas — kebisaan berbahasa, kenalan/jaringan sosial, serta pekerjaan dan pendapatan yang memadai. Kali pertama menyadarinya adalah ketika turun dari taksi yang mengantar saya dari stasiun kereta ke apartemen keluarga tempat saya kos. Bahkan untuk mengucapkan “terima kasih kembali” pun saya belum tahu apa. Ibu kos pun sama sekali tidak berbahasa Inggris. Terlintas di pikiran “Oh my God, what have I got myself into?”

Beberapa bulan kemudian saya membaca di salah satu buku Al Ghazali, betapa Tuhan kadang mengambil hal-hal yang menjadi kesombongan saya, demi pertumbuhan diri dan meningkatkan kesadaran, untuk kemudian dikembalikan. Ketika dikembalikan, kemungkinan cara saya memperlakukan pemberian Tuhan itu semua akan berbeda.

Cara mengatasinya: Tidak ada yang spesifik.

Dijalani saja, dan terjawablah pertanyaan what I have got myself into itu. This.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s